Merakit Drone sebagai Media Edukasi Masyarakat

Perkembangan teknologi di era Industri 4.0 memicu berbagai macam alternatif dalam dunia robotik, salah satunya adalah teknologi drone atau robot terbang. Di Indonesia, drone berkembang mulai sekitar tahun 2012 – 2013 an. Pada waktu itu, drone masih menjadi barang yang eksklusif dan masih tidak terlalu banyak dijumpai. Pada tahun 2017 hingga 2019 saat ini, teknologi drone semakin berkembang pesat mulai dari drone kelas profesional (Pro)  hingga drone kelas mainan (toys). Teknologi yang disematkan pada drone awalnya sangat  sederhana, yaitu drone hanya dapat terbang saja dengan 4 channel yang diberikan, antara lain : maju-mundur (pitch), kanan-kiri (yaw), berputar (roll), dan naik-turun (throttle). Sedangkan drone yang beredar di pasaran saat ini sudah memiliki berbagai fitur dan spesifikasi yang sangat lengkap.

Beberapa fitur yang ada pada drone modern saat ini adalah GPS, headless mode, flip. auto take off/landing, Return to Home (RTH), way point, tracking/follow me, circle/Point of Interest (POI), dan masih banyak lagi. Terlebih lagi, drone saat ini sudah dilengkapi dengan berbagai macam spesifikasi kamera yang sangat bagus mulai dari 1080 P, 2K, hingga 4 K. Berbagai jenis merk drone juga dapat dijumpai baik di took offline maupun online.

Dengan berkembangnya antusias masyarakat dalam dunia drone, memicu banyaknya pula produsen mainan untuk ikut berpartisipasi dalam menyediakan drone. Budaya masyarakat Indonesia yang konsumstif memicu tingginya pemborosan khususnya dalam “berbelanja”, dalam hal ini adalah pecinta drone. Para pecinta drone mulai dari anak-anak hingga dewasa akan dengan mudah menggelontorkan uangnya demi mendapat barang (drone) yang diinginkan. Terlebih lagi saat part atau bagian drone rusak, sebagian orang akan membeli baru daripada memperbaikinya. Hal ini disebabkan juga para produse drone sebagian besar tidak menyediakan suku cadang (spare part) nya.

Melihat kondisi tersebut, drone rakitan adalah salah satu solusi dalam menguranagi budaya konsumstif masyarakat. Dengan drone rakitan, apanila terdapat part  yang rusak, maka akan dengan mudah dapat diganti dengan part yang lain. Selain itu, drone rakitan juga memicu daya kreatif masyarakat sehingga bernilai edukatif. Drone rakitan dapat meng-edukasi para penggunanya dalam menciptakan sebuah drone yang diinginkan. Merakit drone tidaklah sulit, karena hanya dibutuhkan sedikit keseriusan dan keuletan. Terlebih bagi anak-anak, drone rakitan mampu meningkat daya imajinasi dan kecerdasan anak. Hal ini akan sangat berdampak pada pengurangan budaya konsumtif masyarakat.

Dalam merakit drone, terdapat beberapa bagian yang harus diperhitungkan mulai dari ukuran rangka (frame), jenis FCB (Flight Controller Board), ukuran  dan jenis  motor, ESC (Electronic Speed Controller), ukuran baterai, hingga jenis dan ukuran baling-baling (propeller). Saat mendesain drone, daya kreastif dan analitis akan diuji. Jika perhitungan salah, maka dapat dipastikan drone tidak dapat terbang dan bahkan dapat terbakar komponennya. Dalam merakit drone dibutuhkan keuletan dan rasa pantang menyerah. Hal ini disebabkan karena dalam prosenya akan banyak dilakukan trial and error (uji coba dan gagal). Drone yang sudah selesai dirakit sekalipun tidak dapat selalu dijamin dapat terbang dengan baik. Namun saat berhasil, maka perakit drone dapat dengan mudah menguasai berbagai permasalahan yang nantinya akan timbul (trouble shootinh). Hal inilah yang menjadi tantangan dan mengurangi budaya konsumtif masyarakat, tidak hanya membeli barang lalu  membeli lagi jika rusak. Tentunya, teknologi drone semakin lama akan semakin berkembang. Masyarakat juga diharapkan mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa harus menjadi pengguna yang konsumtif.

 

Info Penulis

Nama                         : Husein Mubarok,S.T.,M.Eng.

Bidang Peminatan  : Energy Audit, Energy Management, Renewable Energy, and Energy Conversion

E-mail                        : 155241305@uii.ac.id