Peluang Penguatan Kemandirian Teknologi Kesehatan melalui Pengembangan Telemedicine untuk Penanganan Covid-19

Sudah hampir setahun ini dunia dilanda Covid-19. Lebih dari 50 juta orang di dunia terkena virus ini dan lebih dari 440 ribu kasus Covid-19 di Indonesia. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menekan laju penambahan kasus seperti gerakan stay at home, physical distancing, dan cuci tangan menggunakan sabun. Beragam usaha juga telah dikerjakan untuk menyembuhkan pasien Covid-19 yang dirawat dengan intensif di Rumah Sakit. Selain pengembangan obat-obatan, banyak juga inovasi-inovasi teknologi di bidang kesehatan telah dibuat untuk membantu menangani Covid-19 ini, baik di dunia maupun di Indonesia. Dimulai dengan pembuatan bilik disinfektan untuk penyemprotan cairan disinfektan pada tubuh manusia untuk tujuan sterilisasi. Walau kemudian ada pro dan kontra terkait dengan penyemprotan cairan disinfektan pada tubuh manusia, karena dikhawatirkan punya efek negatif pada kesehatan. Alternatif lain adalah inovasi bilik sterilisasi menggunakan ion seperti yang dikembangkan oleh Universitas Islam Indonesia.
Inovasi selanjutnya adalah pembuatan robot untuk membantu sterilisasi ruangan dan melayani pasien-pasien yang dirawat di Rumah Sakit. Pelayanan yang bisa dilakukan robot antara lain mengantarkan obat dan makanan ke kamar pasien, sehingga bisa mengurangi kontak langsung antara tenaga medis dengan pasien. Hal ini sangat membantu karena jumlah tenaga medis yang ikut terkena Covid-19 di Indonesia jumlahnya juga cukup banyak. Berdasarkan informasi yang diberikan oleh tim mitigasi dari ikatan dokter (PB IDI), dokter gigi (PDGI) dan perawat (PPNI) menyebutkan bahwa hingga akhir september 2020 terdapat 127 dokter, 9 dokter gigi dan 92 perawat telah meninggal dunia.

Inovasi makin berkembang dengan adanya desain dan pembuatan prototipe ventilator, alat ini sangat dibutuhkan oleh pasien Covid-19 karena umumnya pasien mengalami gejala sesak nafas. Para peneliti dari beberapa universitas seperti ITB, UGM, ITS, dan UI bekerja sama dengan industri berlomba dengan waktu untuk mewujudkan produk ini. Harga asli ventilator jika diimpor sangat mahal, 300 hingga 800 juta rupiah. Dengan inovasi lokal ini harganya bisa ditekan hingga dibawah seratus juta rupiah. Ini tentu akan sangat membantu banyak rumah sakit yang merawat pasien Covid-19.

Dalam hal penekanan laju pertumbuhan penularan Covid-19, juga dikembangkan inovasi sistem tracing dan tracking menggunakan aplikasi yang bisa diinstal di smartphone. Seperti aplikasi Gerak di Malaysia, TraceTogether di Singapura, dan PeduliLindungi di Indonesia. Aplikasi Gerak membutuhkan detail pribadi, termasuk nama lengkap pengguna, nomor kependudukan atau nomor paspor, alamat tempat tinggal dan email. Pengguna juga harus memberikan izin untuk melacak lokasi mereka setiap saat melalui GPS ponsel. Sementara aplikasi di Singapura dan Indonesia, karena mempertimbangkan alasan kerahasiaan data pribadi maka menggunakan Bluetooth. Aplikasi ini akan bekerja dengan menukar sinyal Bluetooth jarak dekat yang terenkripsi untuk mendeteksi pengguna lain yang berada dalam jarak sekitar 2 meter. PeduliLindungi mengandalkan partisipasi masyarakat untuk saling membagikan data lokasinya saat bepergian agar penelusuran riwayat kontak dengan penderita COVID-19 dapat dilakukan. Pengguna aplikasi ini juga akan mendapatkan notifikasi jika berada di keramaian atau berada di zona merah.

Peluang Pengembangan Telemedicine

Melihat jumlah pasien yang makin bertambah, tentu hal ini akan makin merepotkan tenaga medis dalam merawat mereka. Salah satu pekerjaan utama tenaga medis adalah memantau kondisi vital sign dari pasien yang dirawat, disamping memberikan obat dan melakukan serangkaian test atau uji laboratorium. Teknologi telemedicine bisa menjadi alternatif solusi yang menjanjikan. Dengan teknologi ini pasien dapat selalu terpantau kondisinya dengan baik, dengan keuntungan dapat mengurangi kontak langsung antara tenaga medis dan pasien serta meningkatkan efisiensi dan efektifitas pemantauan. Intinya telemedicine dalam kasus ini, minimal bisa membantu melakukan pemantauan dengan presisi dari jarak jauh.

Menurut WHO, telemedicine sendiri artinya adalah “the delivery of health care services, where distance is a critical factor, by all health care professionals using information and communication technologies for the exchange of valid information for diagnosis, treatment and prevention of disease and injuries, research and evaluation, and for the continuing education of health care providers, all in the interests of advancing the health of individuals and their communities”. Pada kasus penanganan Covid-19 ini setidaknya ada dua keadaan yang memungkinkan diterapkan telemedicine. Pertama, penanganan pasien di Rumah Sakit. Walaupun secara jarak tidak terlalu jauh alias masih berada dalam satu gedung, namun karena kontak langsung dengan pasien sangat berisiko maka pengawasan rutin bisa menggunakan telemedicine. Minimal adalah aspek telemonitoring. Kedua adalah penanganan ODP yang melakukan karantina mandiri secara tersebar, atau karantina terpusat di suatu tempat dengan jumlah ODP yang sangat banyak, puluhan sampai ratusan. Tentu telemedicine, khususnya telemonitoring akan sangat membantu disini.

Minimal ada dua komponen penting untuk membangun sistem telemedicine dalam kasus ini. Pertama adalah portable sensor yang dipasang pada pasien untuk mengukur atau mengetahui vital sign dari pasien. Kedua adalah sistem telekomunikasi untuk mengirimkan data dari pasien ke server atau pusat monitoring. Bisa ditambahkan satu komponen lagi yaitu pusat pengolahan data, jadi berbagai bentuk data yang dikumpulkan tidak hanya ditampilkan tapi diolah sehingga bisa membantu dalam mendiagnosa dan mengambil keputusan. Ada banyak teknik yang digunakan pada pengolahan data seperti signal processing, big data, dan kecerdasan buatan.

Untuk sensor yang bisa dipasang pada pasien misalnya adalah sensor suhu, pulse rate, dan ECG. Ketiga sensor ini bisa digunakan untuk mengetahui kondisi vital sign dari pasien seperti suhu badan, kondisi jantung, tekanan darah, dan respirasi. Sensor – sensor ini bisa dipasang pada pergelangan tangan seperti memakai jam tangan. Sedangkan untuk sistem komunikasi tentu yang paling memungkinkan adalah sistem komunikasi nirkabel, seperti BLE (bluetooth low energy) dan Wi-Fi untuk jangkauan dalam ruangan, atau menggunakan internet melalui jaringan selular (3G atau 4G) untuk jangkauan yang luas. Bisa juga menggunakan sistem komunikasi satelit pada area tertentu yang sulit mendapatkan sinyal selular.

Lalu siapa yang bisa membuat sistem ini? Apakah mungkin kita membuatnya secara mandiri? Jawabannya adalah sangat mungkin kita membuatnya sendiri. Para peneliti dan mahasiswa lintas jurusan, mulai dari Teknik Elektro, Teknik Biomedis, Teknik Informatik, dan tentu Kedokteran di berbagai Universitas bisa bekerjasama membuatnya. Bahkan sudah banyak penelitian yang dibuat sebelumnya terkait dengan topik ini. Pemerintah hanya perlu memberikan framework dan arahan yang jelas, insyaallah ratusan peneliti dan mahasiswa di penjuru negeri siap bergerak bersama memberikan sumbangsih berharga dalam membantu penanganan Covid-19 ini. Inilah adalah salah satu kesempatan dan tantangan nyata menguatkan kemandirian pengembangan teknologi kesehatan di Indonesia.

 

Info Penulis

Nama                         : Firdaus, S.T.,M.T.,Ph.D.

Bidang Peminatan  : Wireless Communication, Wireless Sensor Networks, Indoor Positioning, Telemonitoring

E-mail                        : firdaus@uii.ac.id